Selasa, 08 Februari 2011

Menumbuhkan Keikhlasan

Menumbuhkan Keikhlasan
Penulis: Fadlyl Usman Baharun


Ikhlas adalah merupakan komponen kesuburan hati yang paling mendasar dan merupakan aktivitas hati yang paling menentukan.
Qs. Al-bayyinah : 5
” Tiadalah mereka diperintahkan, kecuali supaya menyembah kepada Allah dengan ikhlas dalam menjalankan agama, lurus dan mendirikan shalat, mengeluarkan zakat, itulah agama yang lurus.”
Hadist riwayat Bukhori-Muslim:
“ Dari amirul Mukminin Abi Hafs Umar bin Khatab r.a berkata: aku telah mendengar Rasulullah saw bersabda: “ Bahwa segala sesuatu amal perbuatan tergantung pada niat, dan bahwa bagi tiap-tiap orang apa yang ia niatkan. Maka barang siapa yang hijrah menuju (ridho) Allah dan Rasul-Nya, maka hijrahnya itu kepada Allah dan rasul-Nya. Barang siapa hijrah karena dunia (harta atau kemegahan dunia), atau karena seorang wanita yang dikawininya, maka hijrahnya itu kearah yang ditujunya.”
Jadi berdasarkan firman Allah dan Hadist Rasul tersebut di atas terdapatlah bahwa pengertian ikhlas adalah menginginkan keridhaan Allah dengan melakukan amal dan membersihkan amal dari berbagai debu duniawi. Ikhlas dengan pengertian seperti itu merupakan salah satu buah dari kesempurnaan tauhid, yaitu menesakan Allah dalam beribadah dengan meninggalkan riya’, karena riya’ merupakan kesyirikan (syirik kecil).
Ciri- cirri amal yang ikhlas :
1. Khawatir terhadap ketenaran serta keharuman nama atas dirinya dan agamanya, terutama bila termasuk orang-orang yang berprestasi.
2. Orang yang ikhlas selalu menuduh dirinya teledor dalam menunaikan hak-hak Allah, dan teledor dalam melaksanakan berbagai kewajiban. Hatinya tidak dirasuki oleh perasaan ghurur ( tertipu) dan terkagum dengan diri sendiri.
3. Orang yang ikhlas lebih mencintai amal yang tersembunyi daripada amal yang diliput.
4. Saat menjadi pemimpin dan saat menjadi anggota tidak berbeda, selama keduanya masih dalam rangka memberikan pelayanan dakwah.
5. Tidak menggubris dan mengharapkan keridhaan manusia.
6. Kecintaan dan kemarahannya, pemberian dan keengganannya, serta keridhaan dan kemurkaannya adalah karena Allah dan agamanya, bukan karena kepentingan pribadi.
7. Orang yang ikhlas tidak marah, atau menggerutu, lalu meninggalkan aktivitas, pergerakan, dan tidak menjauh dari medan jihad.
8. Orang yang ikhlas tidak akan menjadi malas, jenuh atau berputus asa Karena panjangnya jalan yang dilalui.
9. Bergembira dengan munculnya orang-orang yang berprestasi di dalam berisan dakwah.


Keutamaan ikhlas
1. Syarat diterimanya amal
2. Membuang benih-benih kemunafikan
3. Amal yang ikhlas dapat digunakan untuk bertawassul kepada Allah dalam usaha menghindarkan diri dari bahaya yang sedang menimpa.
Menumbuhkan Keikhlassan:
• Menyadari betapa tingginya kedudukan niat ikhlas dalam beramal.
• Mengambil pelajaran dari kehidupan Rasulullah saw, sahabat, dan ulama-ulama dengan banyak membaca sirah.
• Selalu tidak merasa aman dengan amal yang dilakukan.
• Selalu khawatir akan menyusupnya riya’ dan hawa nafsu ke dalam jiwa, dalam aktivitas amal yang dilakukan.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar